Siap siaga melawan perompak somalia

Perompak Somalia tidak ada hentinya untuk beroperasi menyandera tawanan, walaupun sudah banyak anggota mereka yang tertembak mati, termasuk empat di antaranya yang dihajar peluru pasukan TNI pekan lalu, tapi aksi barbar mereka tidak kunjung redup. Belum hilang sukacita menikmati drama pembebasan sandera ABK Sinar Kudus, para perompak Somalia sudah kembali beraksi. Kali ini korbannya adalah kapal berbendera Singapura, MT Gemini, yang 13 dari 25 awak kapalnya merupakan WNI. Mereka dibajak pada Sabtu (30/4) di perairan Tanzania, 222 kilometer dari Dar es Salaam, ibu kota Tanzania.

Selain 13 pelaut Indonesia, awak kapal yang disandera tersebut terdiri dari empat warga Korea Selatan, tiga Myanmar, dan lima Tiongkok. Mereka semua adalah awak kapal yang bekerja di perusahaan Glory Ship Management Pte Ltd, sebuah perusahaan pengangkut minyak mentah dari Singapura. Kapal berbobot mati 29.871 ton ini tengah dalam perjalanan menuju Mombasa, Kenya, dari Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, membawa muatan 28 ribu ton minyak sawit mentah.

Berbeda dengan penanganan kasus penyanderaan kapal Sinar Kudus, kali ini pemerintah terkesan gesit dan agresif. Menko Polhukam Djoko Suyanto dan Deputi Menko Polhukam Sagom Tamboen serempak menegaskan  bahwa pasukan khusus TNI siap membantu Pemerintah Singapura dalam memberantas perompak. Bantuan akan diberikan jika Singapura memutuskan untuk melakukan operasi militer dan meminta bantuan Indonesia. Ketegasan sama ditunjukkan  Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, yang mengatakan bahwa TNI siap dilibatkan dalam operasi pembebasan kapal yang dibajak tersebut.

Hanya ada satu kata untuk kejahatan seperti itu: Lawan! Tak boleh ada kompromi atas nama apa pun. Kita bukan tidak peduli dengan risiko keselamatan para ABK yang disandera, tapi pengalaman  bicara bahwa  sekali kita berkompromi dengan penjahat maka selamanya kita akan tersandera dengan aksi kriminal tersebut. Pola berdamai dengan penjahat hanya akan membuat mereka keranjingan melakukan kejahatannya.

Lihat saja, belum juga para ABK Sinar Kudus tiba di Tanah Air, para perompak Somalia sudah menyandera Gemini. Nanti bila tebusan untuk pembebasan dibayarkan, mereka pasti mencari korban lainnya. Siklus ini tak akan berkesudahan bila membayar uang tebusan senantiasa menjadi pilihan. Mata rantai kejahatan ini harus diputus. Caranya sederhana, tumpas habis para perompak tersebut! Jalur pelayaran bisnis internasional itu harus dibuat steril dari sentuhan perompak.

Belajar dari dua kasus terkini (Sinar Kudus dan Gemini), Indonesia wajib   memiliki strategi dan mekanisme khusus menangani perompak Somalia. Sejumlah rencana yang sempat dikemukakan Menko Polhukam hendaknya segera direalisasikan. Jangan hanya berwacana terus menerus. Pemerintah harus tegas memilih langkah untuk mengeliminasi aksi perompakan di perairan Somalia. Intinya, kita tidak boleh kalah dengan perompak.

Memang perompakan di perairan Somalia bukan masalah Indonesia semata. Kapal dari berbagai negara juga menjadi sasaran. Dalam beberapa tahun terakhir, perompak Somalia telah membajak ratusan kapal  dan mengeruk jutaan dolar dari uang tebusan. Aksi perompakan itu,  menurut kelompok pengawas  perompakan,  Ecoterra,  telah merugikan ekonomi global hingga US$ 12 miliar setahun. Angka itu belum termasuk US$ 4,5 juta atau Rp 38,5 miliar yang dibayarkan PT Samudera Indonesia  untuk membebaskan Sinar Kudus.

Data Angkatan Laut Uni Eropa (EUNAVFOR) melansir bahwa saat ini para perompak sedang menawan sedikitnya 23 kapal dengan 518 awak di perairan Somalia. Sedangkan data Ecoterra menyebutkan, perompak Somalia sedang menyandera 49 kapal dengan 768 awak. Terlepas dari perbedaan data tersebut, perang terhadap perompak Somalia harus menjadi isu internasional. Indonesia yang punya politik luar negeri bebas aktif dengan semangat turut serta menjaga perdamaian dunia, wajib terlibat aktif.

Sudah saatnya Indonesia ikut serta dalam patroli internasional bersama menjaga kapal-kapal yang melintasi perairan Somalia. Kita yakin kapal perang Indonesia yang didukung dengan korps pasukan khusus kita, baik Kopassus TNI-AD, Pasukan Katak TNI-AL, maupun Paskhas  TNI-AU, mampu berperan aktif menjinakkan para perompak Somalia. Tak perlu lagi berhitung untung rugi. Bangsa ini adalah bangsa pelaut. Para pelaut andal kita eksis di hampir semua kapal berbendera mancanegara. Sudah menjadi kewajiban negara untuk mengamankan mereka, di mana pun mereka bekerja. Karena itu, kita harus siaga penuh melawan perompak.

Selain itu, masalah ini sudah menyangkut harga diri bangsa. Singapura dan Malaysia, dua negara tetangga yang tak punya sejarah kelautan saja,  sudah sejak beberapa tahun terakhir aktif dalam patroli internasional tersebut. Sebagai bangsa maritim besar yang bernenek moyang pelaut, Indonesia tak boleh kalah. Sama halnya dengan kita yang juga tak boleh kalah dengan perompak. Cukup sekali saja kita membayar uang tebusan kepada para perompak jahanam di Somalia. Ke depan, kita harus membuktikan diri bahwa kita benar-benar berjaya di laut.

Sponsor :

mau bikin warnet ???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: